Cilacap — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB kembali melaksanakan kegiatan monitoring pasca implementasi program rehabilitasi ekosistem mangrove di Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, pada 12–16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PKSPL IPB dalam mendukung pemulihan ekosistem pesisir sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat melalui pendekatan solusi berbasis alam (nature-based solutions).
Monitoring dilakukan untuk memastikan keberlanjutan program rehabilitasi mangrove yang telah dijalankan bersama masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap perkembangan ekosistem mangrove, efektivitas tata kelola kawasan, serta dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program rehabilitasi.

Kegiatan monitoring turut melibatkan mahasiswa internasional dari University of Adelaide yang tengah melakukan riset mengenai community engagement in blue carbon projects in Indonesia. Selain itu, lima mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Universitas Padjadjaran dan Universitas Mataram juga ikut terlibat secara aktif dalam kegiatan lapangan.
Berbagai aktivitas dilakukan selama monitoring berlangsung, mulai dari pemantauan flora dan fauna di kawasan rehabilitasi mangrove, pengambilan sampel karbon, monitoring perkembangan kelompok masyarakat, evaluasi implementasi Peraturan Desa (Perdes) terkait perlindungan hutan mangrove di Desa Ujungalang, hingga monitoring dampak ekonomi program terhadap kelompok dan masyarakat setempat.

Kegiatan monitoring juga menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai pengelolaan ekosistem pesisir berbasis masyarakat. Program rehabilitasi yang dijalankan mengintegrasikan pendekatan konservasi dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui penerapan sistem tambak silvofishery yang dipadukan dengan rehabilitasi mangrove. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pemerintah Desa Ujungalang, program rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan oleh PKSPL IPB bersama LPS dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai rehabilitasi ekosistem mangrove dan konsep blue carbon.
“Harapannya kegiatan pendampingan dan program rehabilitasi ekosistem mangrove terus dilaksanakan di Desa Ujungalang sampai masyarakat benar-benar memahami terkait rehabilitasi dan manfaat blue carbon. Program ini benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat walaupun prosesnya tidak cepat karena bersifat solusi berbasis alam,” ujar Toro mewakili Pemerintah Desa Ujungalang.
Sementara itu, Wahyono selaku pembina implementasi program menyampaikan bahwa dampak kegiatan mulai terlihat dari sisi tata kelola kawasan mangrove. Menurutnya, keberadaan program PKSPL IPB bersama LPS secara tidak langsung mampu mengurangi aktivitas illegal logging di kawasan mangrove melalui penerapan Perdes serta meningkatnya aktivitas dan pengawasan masyarakat di area hutan mangrove.
“Walaupun demikian, aktivitas illegal logging masih ada dan belum mampu dikontrol secara keseluruhan mengingat luas kawasan hutan mangrove di Desa Ujungalang mencapai kurang lebih 6.000 hektar,” ungkap Wahyono.
Kegiatan monitoring ini juga memberikan pengalaman lapangan bagi mahasiswa MBKM yang terlibat. Salah satu mahasiswa dari Universitas Padjadjaran, Cindi, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menambah pengalaman dan pengetahuan baru, khususnya terkait pengambilan data mangrove dan karbon di lapangan.
“Kegiatan ini seru banget karena menambah pengalaman, ilmu baru, dan membuat saya lebih memahami cara pengambilan data lapangan secara langsung bersama para ahli,” ungkap Cindi.
Hal serupa juga disampaikan oleh Citra, mahasiswa MBKM dari Universitas Mataram. Menurutnya, kegiatan monitoring mangrove di Cilacap memberikan banyak pengalaman baru, mulai dari teknik pengambilan sampel karbon hingga pengalaman bekerja langsung di kawasan mangrove.
“Saya senang bisa terlibat langsung di lapangan dan belajar bersama orang-orang yang sudah expert di bidang mangrove dan karbon. Sebagai anak magang yang masih banyak belum tahunya, saya benar-benar dibimbing tanpa di-judge. Terima kasih kepada PKSPL yang sudah memberikan kesempatan terlibat dalam proyek ini dan juga untuk seluruh tim monitoring yang seru dan baik banget,” ujar Citra.
Melalui kegiatan monitoring ini, PKSPL IPB berharap proses rehabilitasi mangrove tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir secara berkelanjutan serta meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi bagi warga desa.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan rehabilitasi mangrove dan pengelolaan karbon biru, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui perlindungan ekosistem pesisir dan mangrove, SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya konservasi keanekaragaman hayati, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan ekonomi masyarakat berbasis silvofishery, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, dan mitra internasional dalam mendukung pengelolaan pesisir berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University

