









Jambi, 28 Agustus 2026 — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University memperkuat langkah awal pengembangan program pemberdayaan masyarakat dan rehabilitasi biodiversitas di wilayah pesisir Provinsi Jambi melalui Kajian Cepat (Pra-survey) Indikasi Program Pemberdayaan Masyarakat dan Biodiversity. Kegiatan yang dilaksanakan pada 25–28 Agustus 2026 ini menyasar dua lokasi, yakni Desa Tungkal 1, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Desa Lambur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, bekerja sama dengan PetroChina International Jabung Limited (PCJL).
Bagi PKSPL IPB, pra-survey menjadi tahapan penting untuk memastikan setiap rencana intervensi rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat dibangun berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Kajian tidak hanya diarahkan untuk mengidentifikasi kondisi biofisik kawasan, tetapi juga memahami karakter masyarakat, kesesuaian vegetasi, potensi pengembangan lanskap rehabilitasi, serta kondisi spasial melalui aerial mapping.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen PKSPL IPB dalam mendorong rehabilitasi ekosistem yang tidak bersifat parsial. Sebelum menentukan bentuk intervensi, tim terlebih dahulu melakukan ground check, observasi, pemetaan, serta dialog dengan masyarakat untuk memahami persoalan dan potensi yang ada di masing-masing lokasi.
Tim PKSPL IPB yang terlibat terdiri atas Andy Afandy, S.Pi., MM.; Yoppie Christian, S.Sos., M.Si.; Dr. Amandita Lintang Rumondang; Siti Erwina, S.Pi., M.Si.; Harkyo Hutri Baskoro, S.P.; serta Rifky Nur Fahmi, S.Kel. Keterlibatan tim lintas keahlian tersebut memungkinkan proses kajian melihat kawasan secara lebih menyeluruh, mulai dari aspek ekologis, sosial, hingga peluang pengembangan penghidupan masyarakat.
Mengembangkan Praktik Baik Masyarakat di Tungkal 1
Di Desa Tungkal 1, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, PKSPL IPB berinteraksi dengan 18 masyarakat yang mewakili empat organisasi berbasis masyarakat yang selama ini aktif melakukan rehabilitasi mangrove di kawasan Pangkal Babu.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengalaman dalam mengelola kawasan mangrove yang kemudian berkembang menjadi kawasan ekowisata. Inisiatif masyarakat juga mulai diarahkan pada diversifikasi produk dan penghidupan melalui pengembangan batik ecoprint, produk berbasis mangrove, serta produk perikanan.
Bagi PKSPL IPB, pengalaman tersebut merupakan modal penting dalam merancang tahapan pengembangan program. Kajian diarahkan tidak hanya untuk mempertahankan praktik baik yang telah berjalan, tetapi juga mengidentifikasi ruang inovasi agar pengelolaan ekosistem dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi secara berkelanjutan.
“Petrochina (International Jabung Ltd) telah bekerja dengan masyarakat di Tanjung Jabung Barat selama 3 tahun, dan masyarakat relatif berhasil melakukan rehabilitasi serta pengelolaan area. Namun, setelah itu, apa sekiranya inovasi yang dapat dilakukan? Sementara itu, di Tanjung Jabung Timur, ini adalah pertama kalinya Petrochina mendukung masyarakat pesisir di sana. Untuk memastikan konsep dan arahan implementasi, kami membutuhkan pihak yang berpengalaman dalam melaksanakan program rehabilitasi sekaligus memiliki kapasitas untuk membangun tata kelola yang baik bagi ekosistem tersebut. Karena itulah kami mengajak PKSPL IPB ” ujar Yudha Ramdani, M.Si.
Menurutnya, pengalaman di Tanjung Jabung Barat menjadi pembelajaran penting untuk pengembangan program, sementara Tanjung Jabung Timur menjadi wilayah baru yang membutuhkan pendekatan dan arahan implementasi yang tepat.
PKSPL IPB Dorong Rehabilitasi Berbasis Kondisi Lokal di Lambur
Berbeda dengan Tungkal 1, Desa Lambur di Kabupaten Tanjung Jabung Timur menghadapi tantangan ekologis yang lebih besar. Sebanyak 14 anggota kelompok Jejak Pesisir Timur terlibat aktif dalam survei lapangan, coaching clinic, dan diskusi bersama tim PKSPL IPB.
Desa Lambur memiliki potensi sumber daya perikanan, khususnya udang, yang menjadi bagian penting dari penghidupan masyarakat. Namun, kawasan pesisir juga menghadapi ancaman abrasi yang relatif masif. Ekosistem mangrove yang tersisa belum dikelola secara optimal, sementara tekanan terhadap keberadaannya terus meningkat.
Kelompok Jejak Pesisir Timur sebelumnya telah melakukan sejumlah upaya rehabilitasi mangrove. Namun, sebagian kegiatan tersebut mengalami kegagalan. Kondisi ini kemudian menjadi ruang pembelajaran bersama bagi PKSPL IPB dan masyarakat melalui coaching clinic.
Dalam sesi tersebut, PKSPL IPB tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mengajak masyarakat mengevaluasi pengalaman rehabilitasi yang telah dilakukan. Pengetahuan masyarakat mengenai kondisi kawasan dipadukan dengan pendekatan ilmiah untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan rehabilitasi.
Perwakilan PKSPL IPB, Andy Afandy, menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak dapat dibangun melalui pendekatan instan.
“Setiap upaya rehabilitasi ekosistem perlu dibangun roadmap yang jelas, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Hal ini karena proses rehabilitasi ekosistem tidak dapat dilakukan secara instan maupun secara parsial. Selain itu, rehabilitasi ekosistem harus integral antara kepentingan ekosistem, kemanfaatannya bagi masyarakat, kontribusinya terhadap keberlanjutan penghidupan, serta yang tak kalah penting, integrasinya dengan kebijakan lokal. Maka sejak awal, rencana rehabilitasi ekosistem harus direncanakan dengan baik agar tujuan akhirnya, yakni pemulihan lingkungan, dapat tercapai,” ujar Andy.
Pandangan tersebut menjadi prinsip penting dalam pendekatan PKSPL IPB. Rehabilitasi diposisikan sebagai sebuah proses jangka panjang yang membutuhkan kesesuaian antara kondisi ekologis, kebutuhan masyarakat, keberlanjutan mata pencaharian, dan tata kelola kawasan.
Dari Pra-survey Menuju Desain Program yang Terukur
Hasil pra-survey di Tungkal 1 dan Lambur selanjutnya akan menjadi dasar bagi PKSPL IPB dalam menyusun arahan pengembangan program. Informasi hasil ground check, karakteristik sosial masyarakat, kesesuaian vegetasi, kondisi kawasan, dan aerial mapping akan digunakan untuk memperkuat desain intervensi yang sesuai dengan karakter masing-masing lokasi.
Pendekatan ini penting karena setiap kawasan pesisir memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Strategi yang berhasil di satu lokasi belum tentu dapat diterapkan secara langsung di lokasi lain tanpa melalui proses adaptasi berdasarkan kondisi biofisik, sosial, dan tata kelola setempat.
Melalui proses tersebut, PKSPL IPB berupaya memastikan bahwa program rehabilitasi biodiversitas tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi sebuah model pemulihan ekosistem yang terencana, terukur, partisipatif, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran PKSPL IPB dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan praktik pengelolaan ekosistem di tingkat masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan lokal masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses perencanaan, sementara pendekatan ilmiah digunakan untuk memperkuat dasar pengambilan keputusan dan desain program.
Kajian yang dilakukan PKSPL IPB di Jambi berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Ekosistem Lautan melalui upaya memperkuat rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem mangrove sebagai bagian penting dari kawasan pesisir. Penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan ekowisata, serta diversifikasi produk berbasis sumber daya lokal turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 1: Tanpa Kemiskinan dengan mendorong keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir. Proses coaching clinic, pertukaran pengetahuan, dan pembelajaran berbasis pengalaman juga berkontribusi pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui peningkatan kapasitas masyarakat. Sementara itu, kolaborasi PKSPL IPB, PCJL, dan kelompok masyarakat dalam merancang solusi berbasis kondisi lokal memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi PKSPL IPB, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa program rehabilitasi biodiversitas dan pemberdayaan masyarakat memiliki pondasi yang kuat sebelum memasuki tahap implementasi. Dengan memadukan kajian ilmiah, pemetaan kawasan, pengetahuan lokal, dan perencanaan yang berorientasi jangka panjang, PKSPL IPB terus mendorong lahirnya model pengelolaan pesisir yang mampu memulihkan ekosistem, memperkuat penghidupan masyarakat, serta membangun ketangguhan wilayah pesisir secara berkelanjutan.

