Tekanan pembangunan yang semakin masif disebut memperparah krisis ekologis di Jawa Barat. Menurut pakar ekologi politik dari IPB University, Arya Hadi Dharmawan, krisis ekologis di Jawa Barat tidak bisa disamaratakan untuk setiap daerah. Masing-masing daerah mempunyai karakteristik ekosistem yang berbeda-beda.
“Untuk memahami kondisi Jabar (Jawa Barat), kita harus melihatnya berdasarkan karakteristik ekosistem. Krisis ekologis yang terjadi berbeda-beda antara wilayah utara, tengah, selatan, barat, dan timur,” ujar Arya, dilansir dari laman resmi IPB, Jumat (2/1/2026).
Pembangunan perparah krisis ekologis Jawa Barat
Beda wilayah, beda krisis ekologis
Di wilayah utara Jawa Barat, menurut Arya, krisis ekologis disebabkan alih fungsi lahan. Bahkan, wilayah utara disebut menghadapi tekanan terberat dari pembangunan di Jawa Barat. Wilayah utara Jawa Barat dinilai menjadi “arena tarik-menarik” antara pembangunan infrastruktur, industri, serta sektor pertanian. Hal ini diperburuk dengan adanya ancaman abrasi laut dan penurunan muka tanah.
“Alih fungsi lahan di wilayah utara mencapai sekitar 2.000 hektar per tahun untuk jalan tol, kawasan industri, hingga pusat perbelanjaan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Jabar,” uca Arya.

Selanjutnya, di wilayah tengah Jawa Barat, terutama Bandung Raya, krisis ekologis dinilai disebabkan deforestasi di kawasan hulu. Sementara itu, di kawasan hilirnya, krisis ekologis dinilai dipicu urbanisasi, yang mana semakin padatnya populasi penduduk menyababkan perluasan area permukiman. “Deforestasi di wilayah hulu dan penumpukan penduduk di cekungan memperbesar risiko banjir sekaligus mempercepat degradasi lingkungan,” tutur Arya.
Sementara itu, di wilayah selatan Jawa Barat, krisis ekologis juga disebut sudah mengkhawatirkan, khususnya di daerah aliran sungai (DAS). Arya mencontohkan kondisi DAS Citanduy yang membentang dari Gunung Sawal hingga pesisir selatan Jawa Barat. “Pengalaman kami mendampingi pemulihan DAS Citanduy menunjukkan krisis yang luar biasa, mulai dari hulu hingga ke hilir,” ujar Arya. Di wilayah barat Jawa Barat, krisis ekologis dinilai disebabkan tekanan dari pembangunan permukiman untuk menampung lonjakan jumlah penduduk. Berbatasan dengan DKI Jakarta, wilayah barat Jawa Barat ini menjadi tempat tinggal bagi penduduk penglaju yang bekerja ke ibu kota. Saat ini, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 50 juta jiwa, dengan Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) menjadi wilayah yang tingkat kepadatannya ekstrem. Dampaknya, wilayah barat Jawa Barat tak hanya menghadapi krisis ekologis, tapi juga permasalahan, seperti sengketa lahan, peningkatan kasus kriminalitas, dan konflik sosial-ekonomi lainnya.

