Bogor, 2 April 2026 — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melalui LRI i-MAR menyelenggarakan diskusi strategis terkait pembangunan Great Giant Sea Wall (GGSW) Bagian Barat yang berlangsung di Gedung EDTC PKSPL, Kampus IPB Baranangsiang. Forum ini menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan perwakilan kementerian, pemerintah daerah, akademisi lintas disiplin, peneliti BRIN, praktisi, serta pimpinan pusat kajian di lingkungan IPB University untuk membahas isu, tantangan, serta peluang riset dalam pembangunan tanggul laut raksasa di Indonesia.
Diskusi ini dilatarbelakangi oleh rencana pembangunan GGSW yang terbagi menjadi tiga segmen wilayah—Barat, Tengah, dan Timur—yang bertujuan mengatasi banjir rob, penurunan muka tanah, serta pengendalian banjir pesisir secara terintegrasi. Namun, sebagai proyek strategis nasional berskala besar, pembangunan GGSW juga memiliki potensi dampak signifikan terhadap lingkungan, ekosistem, sosial ekonomi masyarakat pesisir, serta tata ruang wilayah, sehingga memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam pembahasan, para peserta menyoroti kondisi eksisting wilayah pesisir, khususnya Teluk Jakarta yang menjadi hilir dari berbagai tekanan lingkungan. Kawasan ini menerima aliran dari 13 sungai yang membawa beban pencemar, ditambah dengan fenomena penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut yang semakin meningkatkan risiko banjir pesisir. Selain itu, aspek nilai historis kawasan seperti Batavia juga menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan pembangunan.
Dari sisi perencanaan, pembangunan GGSW dirancang dalam dua tahap utama, yakni tahap darat (onshore) dan tahap laut (offshore), dengan panjang rencana mencapai sekitar 500 kilometer dari Jakarta hingga Gresik. Sistem ini juga akan dilengkapi dengan kolam retensi sebagai bagian dari pengendalian banjir terpadu.
Namun demikian, berbagai isu dan tantangan turut mengemuka dalam diskusi. Dari aspek lingkungan, pembangunan tanggul berpotensi mempengaruhi ekosistem pesisir, termasuk hilangnya habitat mangrove, perubahan arus dan gelombang, serta penurunan kualitas perairan laut. Dampak ini juga dapat meluas lintas wilayah dan memengaruhi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Dari sisi sosial ekonomi, terdapat kekhawatiran terhadap keberlanjutan mata pencaharian nelayan yang berpotensi terdampak oleh perubahan kawasan pesisir. Sementara itu, dari perspektif tata ruang, dibutuhkan integrasi lintas wilayah, khususnya kawasan Jabodetabek, serta pendekatan yang tidak hanya berbasis infrastruktur fisik, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekologi.
Menanggapi kompleksitas tersebut, PKSPL IPB mendorong penggunaan pendekatan integratif antara infrastruktur keras (hard infrastructure) dan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS). Dalam diskusi, disampaikan bahwa alternatif seperti rehabilitasi mangrove dan penggunaan material alami seperti bambu dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan pesisir yang lebih berkelanjutan.
Pendekatan berbasis mangrove dinilai memiliki keunggulan dalam meredam gelombang, mencegah abrasi, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Meskipun tidak memberikan hasil instan seperti tanggul beton, solusi ini dinilai lebih adaptif dalam jangka panjang dan selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, para peserta juga menekankan pentingnya kajian berbasis data dan simulasi komprehensif untuk menilai efektivitas GGSW, termasuk evaluasi terhadap akar permasalahan seperti penurunan muka tanah dan tekanan pembangunan di wilayah pesisir. Desain kawasan pesisir, khususnya Teluk Jakarta, diharapkan mampu mengakomodasi pendekatan futuristik yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Diskusi ini juga menegaskan perlunya penguatan kolaborasi riset lintas institusi. Berbagai topik strategis yang perlu dikaji meliputi kualitas air, dinamika ekosistem pesisir, aspek sosial ekonomi masyarakat, serta integrasi kebijakan dan tata ruang. PKSPL IPB memandang bahwa peran perguruan tinggi dan lembaga riset sangat krusial dalam menyediakan dasar ilmiah yang kuat bagi perencanaan dan implementasi proyek berskala besar seperti GGSW.
Melalui forum ini, PKSPL IPB menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Kegiatan diskusi Great Giant Sea Wall ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui penguatan perencanaan pembangunan pesisir yang berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas sektor. Upaya pengendalian banjir pesisir dan adaptasi terhadap kenaikan muka air laut mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), sementara perlindungan dan pengelolaan ekosistem pesisir seperti mangrove dan biota laut mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Selain itu, integrasi tata ruang dan pendekatan pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir berkontribusi pada SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan). Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan lainnya dalam forum ini juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam mewujudkan pembangunan pesisir yang inklusif dan berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University

