Bogor, 10 Agustus 2026 — IPB University melalui Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi dan Kawasan di bawah IPB University, bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) menyelenggarakan International Summer Course 2026 bertema “Empowering Futures: Gender Justice and Child Protection in Agromaritime 5.0 Transformation.”
Program ini mempertemukan 54 internasional mahasiswa dari 13 universitas di sembilan negara secara hybrid. Peserta berasal dari berbagai universitas diantaranya National Chung Cheng University Taiwan, the University of Niigata Prefecture Japan, China Agricultural University, National University of Singapore, University of Philippines Los Banos, University Putra Malaysia, University Malaysia Terengganu, Liaquat University of Medical & Health Sciences Pakistan, Beijing Foreign Studies University, Universitas Trisakti, Universitas Terbuka, Universitas Al Azhar, dan IPB University dalam ruang pembelajaran internasional yang mempertemukan beragam disiplin, budaya, dan pengalaman.
Rangkaian International Summer Course 2026 telah dimulai melalui webinar publik dan sesi daring sejak 23 Juli 2026. Program dilanjutkan dengan pembelajaran mandiri, kuliah pakar online pada tanggal 6 dan 7 Agustus 2026, latihan praktis, kunjungan lapangan ke Kementerian, kegiatan budaya, serta program tatap muka yang berlangsung di Bogor pada 10–14 Agustus 2026.
Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet melalui sambutannya menegaskan bahwa Agromaritim 5.0 tidak dapat dimaknai sebatas penerapan teknologi maju. Transformasi tersebut harus menempatkan manusia sebagai pusat perubahan dalam sistem pertanian, kelautan, komunitas, dan kelembagaan. “Teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan memperluas peluang. Namun, kemajuan baru bermakna ketika manfaatnya dibagikan secara adil dan risikonya ditangani secara bertanggung jawab. Keadilan gender dan perlindungan anak bukan isu pelengkap, melainkan fondasi pembangunan berkelanjutan, ketahanan keluarga, dan martabat manusia,” ujar Rektor IPB University.
Menurutnya, perhatian khusus perlu diberikan kepada perempuan dan anak yang tinggal di wilayah perdesaan dan pesisir, komunitas migran, keluarga berpendapatan rendah, daerah rawan bencana, serta kelompok yang rentan secara digital. Oleh karena itu, inovasi dan kebijakan harus dirancang secara inklusif, berbasis bukti, peka terhadap konteks budaya, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak.
Dekan FISEMA IPB University, Prof. Dr. Sofyan Sjaf, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, perubahan iklim, migrasi, dan perubahan sistem ekonomi membawa peluang sekaligus risiko baru bagi keluarga dan masyarakat. “Pembangunan pada akhirnya adalah tentang manusia. Teknologi boleh semakin cerdas dan ekonomi semakin produktif, tetapi kemajuan yang nyata harus meningkatkan kesejahteraan manusia, memperkuat keluarga dan komunitas, melindungi anak, memajukan keadilan gender, serta membuka kesempatan bagi semua,” ujar Prof. Sofyan melalui sambutannya. Dekan FISEMA berharap summer course ini menghasilkan tiga capaian utama, yaitu pengetahuan yang lebih mendalam, jejaring akademik lintas negara, dan dampak nyata bagi masyarakat.
“Pengetahuan tidak seharusnya berhenti di ruang kelas dan jurnal. Pengetahuan harus berkontribusi terhadap kebijakan yang lebih baik, keluarga yang lebih kuat, komunitas yang lebih berdaya, serta perlindungan yang lebih efektif bagi perempuan dan anak,” tambahnya.
Kepala LRI PSEK IPB University, Prof. Arya Hadi Dharmawan, turut menekankan bahwa transformasi Agromaritim 5.0 berlangsung di tengah ketimpangan sosial, ekonomi, kelembagaan, dan geografis yang masih ada. Oleh karena itu, kemajuan teknologi tidak dapat dipisahkan dari kemajuan sosial. “Kita perlu bertanya: siapa yang memperoleh manfaat dari transformasi, siapa yang menanggung risikonya, serta apakah manfaat dan risiko tersebut dibagikan secara adil kepada perempuan, anak, keluarga, komunitas, dan berbagai wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menjelaskan bahwa summer course ini dirancang untuk menghubungkan teori dengan praktik. Materi pembelajaran mencakup lanskap sosial global dalam Agromaritim 5.0, kesejahteraan anak di era digital, ketahanan keluarga menghadapi tekanan iklim, migrasi dan dinamika antargenerasi, advokasi komunitas, serta komunikasi strategis untuk perubahan sosial.
Sebanyak 11 dosen tamu dan praktisi dari berbagai negara (Taiwan, Jepang, Australia, Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia) turut berkontribusi dalam rangkaian program. Kehadiran narasumber dan peserta internasional tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan riset komparatif, publikasi bersama, mobilitas mahasiswa, dan berbagai inisiatif berbasis komunitas.
Para peserta tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga didorong untuk mengajukan pertanyaan kritis, bertukar pengalaman, menguji gagasan berdasarkan bukti dan realitas kehidupan masyarakat, serta membangun jejaring akademik lintas negara.
Melalui International Summer Course 2026, IPB University memperkuat komitmennya untuk memastikan bahwa transformasi Agromaritim 5.0 tidak hanya menghasilkan sistem yang semakin cerdas dan produktif, tetapi juga lebih manusiawi, adil, inklusif, dan berkelanjutan.
International Summer Course 2026 merupakan program akademik internasional yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA), LRI PSEK IPB University bersama FISEMA Program ini mengembangkan pembelajaran interdisipliner mengenai keadilan gender, perlindungan anak, ketahanan keluarga, dan transformasi Agromaritim 5.0.
Narahubung Media:
Dr. Yulina Eva Riany, SP., MEd
Kepala, Pusat Kajian Gender dan Anak
IPB University
📧 yriany@apps.ipb.ac.id | pkga@apps.ipb.ac.id
📱 +62 878 0752 0817

