PKSPL IPB University Perkuat Rehabilitasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Desa Perlang – Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan

 

 

Perlang, Bangka Tengah – Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia dan United Nations Office for Project Services (UNOPS) melaksanakan rehabilitasi terumbu karang melalui metode transplantasi di Gusung Timur Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Rehabilitasi Terumbu Karang Level Masyarakat dalam implementasi Strategic Action Programme for the South China Sea and Gulf of Thailand (SCS-SAP). Dalam program tersebut, PKSPL IPB University berperan sebagai Specialized Executing Agency (SEA) yang mendukung pengelolaan ekosistem pesisir, termasuk terumbu karang di wilayah Laut Cina Selatan.

Kepala PKSPL IPB University, Prof. Dr. Yonvitner, menyampaikan bahwa rehabilitasi terumbu karang di Desa Perlang merupakan salah satu rangkaian pemulihan tiga ekosistem dalam program tersebut. Rehabilitasi menggunakan metode spider dengan cakupan area sekitar 200 meter persegi.

“Kegiatan hari ini merupakan bagian dari amanat pengelolaan wilayah Laut Cina Selatan dan menjadi salah satu rangkaian rehabilitasi tiga ekosistem. Melalui metode spider, rehabilitasi terumbu karang dilakukan pada area sekitar 200 meter persegi. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah agar kegiatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat berperan sebagai pengawas bersama UPTD dalam menjaga dan memantau hasil rehabilitasi,” ujar Prof. Dr. Yonvitner.

Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari UNOPS dan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah. Drs. Heru Waluyo Koesworo, M.Com., selaku Koordinator Nasional SCS-SAP UNOPS, mengapresiasi keterlibatan PKSPL IPB University dalam kegiatan regional yang mencakup wilayah Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung.

“Kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada panitia dan PKSPL IPB University. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa memiliki di masyarakat sehingga hasil rehabilitasi dapat terus dijaga dan dipelihara,” ungkapnya.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Tengah, Ahmad Syarifullah Nizam, S.E., M.A.P.. Ia menjelaskan bahwa Bangka Tengah memiliki kawasan konservasi laut sekitar 11.200 hektare dan menjadi salah satu wilayah yang dipilih untuk pelaksanaan rehabilitasi terumbu karang.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola dan menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut, Sayid Muhadhar, berharap hasil transplantasi dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata di Desa Perlang.

“Kami berharap kawasan ini suatu saat dapat menjadi tujuan wisata. Setelah transplantasi dilakukan, monitoring perlu dilaksanakan untuk memastikan hasilnya tetap hidup. KLH akan kembali melakukan pemantauan dalam satu tahun untuk melihat keberlangsungan transplantasi yang telah dilakukan,” jelasnya.

Prosesi rehabilitasi diawali dengan pengikatan fragmen karang pertama dan penenggelamannya oleh KLH/BPLH RI, kemudian dilanjutkan oleh seluruh peserta. Kegiatan ini menjadi penerapan langsung dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh masyarakat selama pelatihan.

Melalui kegiatan tersebut, PKSPL IPB University mendorong penguatan peran masyarakat dalam menjaga, memantau, dan memelihara hasil rehabilitasi terumbu karang. Upaya ini diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem pesisir secara berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga internasional, dan masyarakat.

Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 14 (Life Below Water) melalui rehabilitasi ekosistem laut, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan ketahanan ekosistem pesisir, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kemitraan multipihak dalam pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *