Bogor – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Kejadian yang berulang hampir setiap musim kemarau ini tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem dan kehilangan sumber daya alam, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Pada 2026, kejadian karhutla kembali dilaporkan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang memerlukan pemantauan secara berkelanjutan. Terlebih, asap dan berbagai polutan yang dihasilkan dari kebakaran dapat menyebar melampaui lokasi terjadinya kebakaran dan memengaruhi kualitas udara pada wilayah yang lebih luas.
Merespons kondisi tersebut, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University mengembangkan sistem pemantauan kualitas udara dalam kaitannya dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan berbasis data satelit secara near-real time (NRT). Sistem tersebut terintegrasi dalam platform WebGIS dengan cakupan seluruh wilayah Indonesia dan data terbaru diperbarui serta dipublikasikan setiap hari.
Sistem ini dikembangkan untuk memberikan gambaran spasial mengenai kejadian karhutla sekaligus perubahan kondisi atmosfer yang menyertainya. Dengan demikian, pengguna tidak hanya dapat mengetahui lokasi terjadinya titik panas (hotspot), tetapi juga mengamati kondisi kualitas udara dan keterkaitannya dengan kejadian kebakaran dari hari ke hari.
Menurut Kepala Laboratorium Instrumentasi dan Monitoring Lingkungan Hidup PPLH IPB University, Tubagus Ahmad Mufawwaz, sistem yang dikembangkan mengintegrasikan beberapa sumber data penginderaan jauh satelit. Salah satunya adalah data Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi-NPP yang digunakan untuk mendeteksi anomali termal atau titik panas (hotspot) sebagai indikasi kejadian kebakaran. Informasi tersebut kemudian diintegrasikan dengan data Sentinel-5P yang membawa instrumen TROPOMI (Tropospheric Monitoring Instrument) untuk mengamati berbagai komponen atmosfer dan gas pencemar. Integrasi kedua sumber data tersebut memungkinkan indikasi kejadian kebakaran dan perubahan kondisi atmosfer diamati dalam satu platform secara spasial dan temporal.
Fawwaz menjelaskan bahwa sistem dikembangkan agar mampu melakukan proses akuisisi, pengolahan, penyimpanan, dan visualisasi data secara otomatis. Data terbaru kemudian ditampilkan melalui dashboard WebGIS dan diperbarui setiap hari, sementara seluruh data periode sebelumnya disimpan untuk membangun basis data deret waktu (time-series).
“Dengan sistem near-real time ini, informasi terbaru dapat diperbarui dan dipublikasikan setiap hari. Data historis juga tetap tersimpan sehingga kita dapat mengikuti perkembangan kejadian dari waktu ke waktu. Dengan mengintegrasikan data titik panas dan kondisi atmosfer, kita dapat menganalisis keterkaitan spasial dan temporal antara kejadian karhutla dengan perubahan kualitas udara,” jelas Fawwaz.
Menurut Kepala PPLH IPB University, Dr. Yudi Setiawan, M.Env.Sc., kejadian karhutla yang terus berulang menunjukkan perlunya sistem pemantauan yang tidak hanya memberikan informasi mengenai lokasi kebakaran, tetapi juga mampu memberikan gambaran mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan, khususnya terhadap kualitas udara.
“Karhutla merupakan persoalan lingkungan yang berulang dan dampaknya tidak berhenti pada wilayah yang terbakar. Salah satu dampak yang sangat penting adalah penurunan kualitas udara akibat asap dan polutan yang dilepaskan ke atmosfer. Karena itu, kita perlu melihat karhutla dan kualitas udara sebagai suatu rangkaian persoalan yang saling berkaitan,” ujar Dr. Yudi.
Menurutnya, teknologi satelit memberikan peluang untuk melakukan pemantauan secara lebih luas dan konsisten, terutama mengingat luasnya wilayah Indonesia serta keterbatasan cakupan stasiun pengamatan kualitas udara berbasis darat.
“Keunggulan sistem yang kami kembangkan adalah kemampuan menyediakan informasi spasial secara near-real time, dengan pembaruan data setiap hari dan cakupan seluruh Indonesia. Kita dapat melihat di mana titik panas muncul dan bagaimana kondisi atmosfer di wilayah tersebut serta wilayah di sekitarnya berubah dari hari ke hari,” jelas Dr. Yudi.
Kemampuan menyimpan data secara time-series juga menjadi bagian penting dari sistem tersebut. Data historis memungkinkan pola kejadian karhutla dan perubahan kondisi atmosfer dianalisis dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hal ini penting mengingat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan kejadian yang berulang dan memiliki karakteristik spasial maupun temporal yang berbeda antarwilayah.
“Karena kejadian karhutla terus berulang, kita tidak cukup hanya mengetahui kondisi hari ini. Kita juga perlu memahami pola kejadiannya: di mana kebakaran berulang terjadi, kapan intensitasnya meningkat, dan bagaimana perubahan kualitas udara mengikuti kejadian tersebut. Informasi time-series menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman tersebut,” tambah Dr. Yudi.
PPLH IPB University memandang bahwa integrasi informasi kebakaran dan kualitas udara tersebut dapat menjadi salah satu sumber informasi ilmiah untuk mendukung pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas pemantauan dan penanganan karhutla.
Sistem ini juga diharapkan dapat melengkapi berbagai sistem pemantauan yang telah tersedia dengan memberikan perspektif analitis mengenai hubungan spasial dan temporal antara kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan perubahan kondisi kualitas udara.
“Karhutla sudah menjadi persoalan lingkungan yang berulang dan pada periode tertentu kondisinya dapat sangat mengkhawatirkan. Karena itu, kita perlu bergerak dari sekadar mengetahui di mana kebakaran terjadi menuju pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana kebakaran tersebut memengaruhi kualitas lingkungan dan masyarakat di sekitarnya,” tegas Dr. Yudi.
Ke depan, PPLH IPB University akan terus mengembangkan sistem tersebut melalui integrasi berbagai sumber data satelit, data pengamatan kualitas udara berbasis darat, serta informasi meteorologi dan lingkungan lainnya. Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat analisis hubungan antara sumber kebakaran, kondisi meteorologi, penyebaran polutan, dan perubahan kualitas udara.
Pengembangan selanjutnya juga diarahkan menuju sistem peringatan dini (early warning system) kualitas udara terkait kejadian karhutla, sehingga informasi yang dihasilkan tidak hanya menggambarkan kondisi yang telah terjadi, tetapi dapat mendukung antisipasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat.
“Target kami ke depan adalah membangun sistem yang tidak hanya memonitor kejadian karhutla dan kualitas udara, tetapi juga dapat memberikan informasi lebih dini mengenai potensi dampaknya. Dengan demikian, teknologi ini dapat berkembang menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan untuk mitigasi dampak karhutla terhadap kualitas udara di Indonesia,” pungkas Dr. Yudi.[my]

